SIRAJA TURNIP
Dari kampung (huta) Tamba berangkatlah bersama-sama Turnip(Oppu Manase) ,Sidauruk dan Sitio merantau diberangkatkan oleh orang tuanya naik sampan (solu bolon) sebagi transportasi untuk mereka munuju perantaunya, pada saat mereka bertiga diberangkatkan dengan urutan posisi duduk dalam sampan Turnip di depan,sidauruk ditengah,sitio dibelakang,rute yang mereka lalui menuju perantauanya adalah dari pantai Palipi ke pantai Nainggolan,Onan Runggu,Ambarita sampai ke Simanindo (Tano Ponggol belum ada).Sebelum Turnip ,Sidauruk,Sitio datang ke Simanindo marga siallagan sudah lebih dulu mendiami kampung Ambarita.megetahui adeknya yang datang dari kampung Tamba datang membuka huta di Simanindo diapun datang untuk melihat (manindo) keadaan dari adek-adeknya, itulah mengapa nama kampung itu diberi nama Simanindo dari asal kata "Manindo" dengan arti melihat.setelah sekian lama Turnip,Sidauruk dan Sitio membuka perkampungan di kenegerian Simanindo mereka lupa akan kampung halamnya(bona pasogit) di Tamba dikerenakan kehidupan yang sejahtera,dan pada satu masa mereka ditimpa kesusahan terjadilah pacekilakan dikarenakan buah padi habis di makan burung.akibat dari kejadian ini mereka pun teringat akan pesan dari orang tua mereka ketika memberangkatkan pergi merantau yang mana orang tua mereka berpesan "Ingkon Paulakonna Bona Boni tu bona pasogit dihuta tamba" artinya mereka harus mengembalikan bibit awal yang mereka bawa ke kampung Tamba.Lalu mereka pun berangkat ke kampung Tamba untuk mengembalikan Bona Boni dengan naik sampan menuju Kampung Tamba namun sebelum mereka menipi di pantai Tamba,Orang Tua mereka yang melihat kedatanganya menyahut mereka dari daratan "Ise Hamuna Dijolo" begitula suara yang datang dari daratan lalu mereka menjawab sidauruk didepan mendengar jawaban mereka orang tua yang dari darat lalu melempar/diumbalang (ubalang =sej.ali-ali, ketapel ayun) melihat keadaan ini mereka bertiga lalu memutar arah sampannya lalu merubah posisi duduk didalam sampan dengan posisi Turnip di depan sidauruk ditengah dan sitio dibelakang sama seperti posisi duduk ketika mereka berangkat merantau,setelah mereka merubah posisinya dan kembali memutar sampan untuk menepi di pantai Tamba kembali para orang Tua menyahut dari daratan dengan pertanyan yang sama lalu mereka menjawab Turnip di depan sesuai posisi duduk mereka lalu mereka pun di izinkan menepi kepantai.dan mereka kembali lagi kesimanindo setelah mengembalikan Bona Boni keperkampungan yang mereka buka dan menetap di simanindo. Ketika Oppu Rea Raja menduda (mabalu) dia pun datang ke Simanindo untuk menjumpai anaknya Oppu Manase ,mengetahui kedatangan orang tuanya Oppu Manase begitu gembira dan senang begitu juga dengan Oppu Rea Raja turut gembira dan senang mengetahui dia telah mendapatkan cucu dari Oppu Manase dan mereka pun tinggal bersama-sama disimanindo. Demikian juga halnya dengan Sidauruk dan Sitio turut gembira dan senang melihat kedatangan orang tua dari saudara (dongan tubu) seperantauan mereka juga mengangap Oppu Rea Raja layaknya sebagai orang tua sendiri.kerena kebaikan Sidauruk dan Sitio ini membuat Oppu Rea Raja juga menganggap mereka layaknya anak sendiri. setelah tinggal bersama anaknya Oppu Rea Raja memiliki kegiatan berburu dalam aktivitas keseharianya,dikarenakan lokasi perburuan yang cukup jauh dari rumah anaknya Oppu Rea Raja membagun Gubuk(sopo-sopo) dekat hutan tempat perburuanna didaerah perbukitan simanindo,namun walupun sudah membangun gubuknya Oppu Rea Raja sering juga berkunjung ke kampung Simanindo.namun dikarenakan Oppu Manase bila sedang bekerja diladang yang tinggal dirumah adalah istrinya Oppu Rea Raja merasa sungkan terhadap menantunya(parumaennya) Oppu Rea Raja lebih sering pergi kerumah Sidauruk. sidauruk tidak meresa keberatan bila Oppu Rea Raja Menginap dirumahnya karena rasa hormat dan sayangnya terhadap Oppu Rea Raja. Melihat kebiasasan Oppu Rea Raja yang selalu pergi kerumah sidauruk ,anak dari Oppu Manase bertanya pada orang tuanya mempertanyakan perihal keberadaan Oppu Rea Raja mengapa Ompung itu selalu pergi kerumah sidauruk ?,ompung siapakah sebenarnya Ompung itu,begitulah pertanyaan yang timbul dari ucapan anak Oppu Manase.inilah awal dari sakit hatinya Oppu Manase terhadap orang tuanya Oppu Rea Raja, yang menimbulkan niat jahat dalam hatinya oleh karena rasa iri dan cemburu terhadap sidauruk yang medapatkan kasih sayang yang lebih dari Oppu Rea Raja dibandingkan dia anak kandungnya sendiri.Oppu Manase pun bercana hendak berbuat jahat pada orang tuanya dan mengajak seorang dari anaknya bersamanya pergi ketempat perburuan dan mengintai Oppu Rea Raja. lalu mengikatnya pada bongkahan kayu besar(tukko tukko) dan meninggalkanya disana dihutan tempat perburuan dengan pesan "Dison maho sakkuton Unang be sai laho tu jabu ni sidauruk" artinya jangan lagi kau pergi ke rumah sidauruk dan Oppu Rea raja tidak jadi mereka bunuh hanya mengikatkanya pada bongkahan kayu besar. Setelah selang beberapa hari sidauruk bertanya dalam hati dikarenakan Oppu Rea Raja dalam beberapa hari tidak kunjung datang kerumahnya sidauruk mengira Oppu Rea Raja jatuh sakit lalu dia datang ke rumah Oppu Manase dan mempertanyakan keberadaan Oppu Rea Raja ,dimana bapak kita apakah dia sedang sakit? tanya sidauruk kepada Oppu Manase namun Oppu manse menjawabnya dengan "Dang Tupareso Amangmi ai Dijabumdo ,Amang mu doi" artinya saya tidak memperdulikan bapakmu dia kan tinggal dirumahmu jadi bapakmunya itu,mendengar jawabanya Oppu Manase ini sidauruk pun pergi mencarinya kerumah sitio dia pun tidak mendapatinya dirumah sitio,lalu dia pergi mencari dan bertanya kepada orang-orang yang ada dikampung namun tidak ada yang mengetahui keberadaan Oppu Rea Raja yang beberapa hari tidak kelihatan lalu pergilah sidauruk ke gubuknya Oppu Rea Raja yang ada dihutan tempat perburuannya disitupun sidauruk tidak menjumpai Oppu Rea Raja dan disekitar hutan perburuanya juga dia tidak menemukanya.lalu dibunyikan lah Gondang Sabangunan untuk mencari keberadaan Oppu Rea Raja lalu sidauruk pun menemukan seutas tali terikat pada satu bongkahan kayu besar namun Oppu Rea Raja tidak lagi terikat disana lalu sidauruk ini pun berteriakg sembari memanggil-manggil Oppu Rea Raja lalu terdengar suara dari arah perbukitan hutan"Unang Be Sai Dilului ho be ahu Anaha nungga be sonang au di joloni Oppung Mulajadi Nabolon Jala Molo masihol ho tu au jou ma au Situkko Nabolon jala unang jou goar hi molo so ture dalanna" artinya Jagan lagi kamu mencari-cari aku karena aku sudah tenang bersama sang pencipta dan bila engkau rindu akan aku panggil lah aku Situkko Nabolon dan jangan sembarangan sebut namaku bila tidak pada Tempatnya" pada saat itulah sidaruk diberkati dan suara itu pun memberitahukan kepada sidauruk siapa yang mengikatnya dengan pesan "Nang pe songoni pambahenanni haha mi tu au unang sogo roham ai anakku do hamuna natolu" artinya walapun begitu perbuatan abangmu jangan engkau benci kepadanya karena kalian bertiga adalah anakku, dan masih banyak lagi nasehat-nasehat yang sampaikan Oppu Rea Raja kepada kita generasinya (pomparanna) biar berprilaku yang baik,jangan ada iri hati. oleh sebab itu tempat kejadian ini menjadi tempat yang dikeramatkan dari dulu sampai sekarang oleh generasi Sidauruk,Turnip dan sitio dan masa kepercayaan jauh sebelum datangnya kekristenan tempat ini merupakan pemujaan atau sesembahan dari empat marga Turnip,sidauruk,sitio dan Malau sebagai boru.Bila dibandingkan dengan apa yang tertulis di Alkitab dalam perjanjian lam mengenai tata cara memberikan persembahan pemujaan pada Situkko Nabolon hampir ada persamaan yaitu membersembahkan ternak yang gemuk sebagai penebusan dosa itu lah sebabnya mengapa di tiga marga Sidauruk,Turnip,sitio terjadi "Margondang Mandudu Mangalahat Horbo Sitikko Tanduk" Oppu Rea Raja inilah yang sering disebut dengan Situkko Nabolo ataupun gelar Sojouan yang secara etimologi Sojouon berarti So=Jangan;dan Jouan=Panggil;sebut.jadi dapat diartikan Jangan sembarangan dipanggil yang sesuai dengan pesannya kepada generasinya. namun pada saat sekarang ini kita generasi Turnip untuk sekedar menjiarahi Oppung kita dulu dapat berkunjung ke daerah perbukitan Simanindo.Namun bukan keharusan ziarah ketempat itu yang lebih utama adalah perilaku dan sikap yang dipesankan Oppung kita kepada kita generasinya.Inilah kisah cerit (Turi-turian) tentang Situkko Nabolon yang pernah saya dengar,bilamana ada kekurangan mari kita saling mengisi dan mengoreksi. September ,2011 Sumber dari :.Silawsada Turnip
Langganan:
Komentar (Atom)
TONA RAJA NAIAMBATON
.TONA RAJA NAIAMBATON. .. Tona Raja Naiambaton terjadi tidak terlepas dari peristiwa ULTOP antara Tambatua dengan Bolontua.dimana dalam pe...
-
Turi-turian dan padan marga Turnip Dalam bahasa Batak kata Turiruian dapat deartikan ceritera yang berdasarkan histories.Sedangkan Turi-tu...